"DIKALA SENDIRI"
Datang ombak menemani
Duduk ku menyendiri
Sore hari yang kian menjadi sepi
Tapi ku tetap rindu akan apa yang telah terjadi
Pontang panting ku berusaha
Untuk melupakannya
Tapi...
Semua itu sia sia saja
Melihatnya bersama orang lain
Layaknya daun yang tertiup angin
Kenangan terus teringat
Dan tersimpan dihati yang pekat.
"Modernisasi"
Jangan harap kau bangga
Akan semua yang menjadi pujangga
Barang mati dipuja-puja
Dikejar terus menerus sampai ke tahta raja.
Teknologi..
Coba liat situasi
Zaman modernisasi terus berkembang
Tapi rakyat kecil tak terima karena itu tak seimbang
Jajaran pemerintah
Tak memberikan solusi yang tepat
Hanya sekedar pendapat
Dan tolong..
Pertimbangkan suara kami
Yang menjadi busung lapar setiap hari.
"Jatuhnya sang mentari"
Wahai mentari
Terus bersinar dikala menerangi bumi
Aku..
Merindukan hangat mu di pagi hari.
Banyak aktivitas yang terjadi
Dan manfaat mu
sungguh mulia sekali
Wahai mentari
Dikala awan menutupi dirimu terus bersinar
Tak kau hiraukan apapun itu
Layaknya audio sonar
Kau terus memancar sampai ke tahta sang ratu.
Senja datang
Dikala ini kita harus berpisah
Tapi kau tetap menjadi bintang
Saat bumi setelah basah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
